Semua cerita tentang masa SMA Gabungan jayapura
tinggal cerita sejak kelulusan diumumkan. Dan saatnya memilih hidup merantau di
negeri orang lain. Menjadi anak rantau adalah pilihan hidupku sejak itu. Sama
halnya juga teman-teman lain yang dijumpai di Yogyakarta dan Solo. Itu sebabnya
ku katakan kalau menjadi seorang anak rantau memang menjadi pilihan hidupku
sebagai anak kalang mudah, tidak hanya dewasa, bahkan ada pula yang memulai
merantau sejak SMP.
Dengan menjadi anak merantau, banyak cerita yang dapat
kita ukir, seperti ceritaku. Banyak Pengalaman hidup yang di dapatkan. Beda
ceritanya dengan mereka yang habiskan hidupnya dekat dengan orang tua atau di
tanah kelahiran mereka sendiri.
Ah, seperti ini terjadinya. Hidup sebagai anak
merantau. Menangis jelas menjadi bagian dari hidupku sejak ku ajak kaki di
tanah ini. Eeh jangan salah artikan ee?
Menangis bukan karena putus cinta. Mungkin lebih rumit
seperti yang ku bayangkan. Awal-awal biasa saja. Apa lagi lihat kota besar, tak
ada pikiran negatif atau hal-hal yang buruk melintas di benakku tetapi pada
akhirnya saya merasakan hal ini.
Ini cerita sedih ku.
Sejak bulpen milikku hilang kedua kalinya semacam SMA
aku pernah ada niat berteriak meminta keadilan. Kembalikan bulpen saya, tetapi
apa daya. Sedih bukan kepayang. Jujur aku marah, aku kesal dan aku ingin
melampiaskan semuanya. Tapi ada dayaku, aku ini siapa? Tak ada kekuatan bagiku
lagi, bahkan untuk berteriak untuk meminta keadilan sekalipun. Aku tak kuasa
untuk melakukan hal itu.
Cerita singkat ini teringat kembali setelah aku duduk
di perguruan tinggi. Sekarang aku mahasiswa aktif di UNIVERSITA WIDYA MATARAM.
Sebelum aku berangkat ke Yogya dan menjadi mahasiswa
di perguruan tinggi ini, orang tuah aku tidak setuju lantaran keputusanku sanak
saudara di Yogya. Tetapi keputusanku telah bulat. Aku bersikukuh untuk tetap
menjalankan anganku untuk bisa kenal dengan teman-teman dari berbagai daerah
seperti Nabire, Paniai, Dogiyai, Deiyai dan daerah lainnya.
Orang tuaku marah, terlebih dahulu Mamaku. Alasan
utama, tak ingin Mama melihat Putranya berpisah dari genggamannya sebab Mama
yang sangat menyayangiku. Apalah dayaku, keputusanku telah bulat. Aku akan
pergi di negeri sembarang, jauh dari Ayah dan Ibu. Sebagai penawarnya aku hanya
meneteskan air mataku membalas kerinduan Ayah dan Ibundaku saat itu. Aku harus
berpisah dan memilih hidup sendiri dari kampung halamanku, AMPUNGAIDA. Apalagi
seperti sekarang, kehidupan yang aku rasakan di Yogya betapa kejamnya dan tak
semanis seperti di kampungku. Bersama ayah dan Ibunda.
Kini, waktu semakin cepat berlalu. Tak terasa sudah
satu tahun aku berada di tanah orang, jauh dari Ayah, Ibu dan kakku. Di sini
aku aktif sebagai mahasiswa tetap di kampus UNIVERSITAS WIDYA MATARAM. Karena
kecintaanku terhadap dunia pendidikan, aku mulai mencari peluang untuk mencari
ilmu merantau di kota Yogyakarta dengan harapan, suatu saat nanti menjadi
seorang terkenal.
Sekarang aku anak merantau, aku mahasiswa sedang
belajar banyak hal, organisasi, kepemimpinan, serta fokus yang sedang ku tekuni
yakni Jurusan Manajemen. Segala perjuangan telah ku tempuh, mencari ilmu di
rantau demi kepentingan masyarakat. Sehingga semangatku meninggi, sangat
menikmati mata kuliah yang ada di kampusku.
Banyak cerita yang ku lalui, lapar, haus bahagia,
tangis serta kerinduan kampung halamanku, terutama untuk Ayah serta Ibunda juga
sanak saudara dan Family. Namun aku tetap lawan semuanya. Hidup merantau adalah
pilihanku. AKU MERDEKA.

kritik, saran dan masukan sangat terima